Kerangka dalam Menulis
"Ayah, ayo berangkat kerja!" teriak istrinya dari dapur sambil menyiapkan air putih hangat untuk suaminya. Sementara jari-jarinya masih mengetik dengan cepat, mengurai ide-ide yang ada di kepalanya. "Wah, tanggung, satu kalimat lagi," kalimat itu berkeliaran di kepalanya. Kejadian ini juga tidak hanya terjadi sekali. Kadang dia harus mempercepat waktu istirahatnya agar bisa menulis. Tekadnya untuk mengejar mimpinya sejak masa mudanya menjadi seorang penulis.
Hingga malam ini, di meja rumah yang sepi, dia menatap ribuan kata yang sudah ditulisnya mati-matian. Di satu sisi, dia merasa puas karena semua ide di kepalanya sudah tertulis. Seperti orang yang mabuk, dia mengetikkan semua yang terlintas di kepalanya. Seperti seorang penulis kampiun.
Dia mengingat kembali proses menulisnya yang hanya bermodal mengikuti kata hati, emosi, dan semua ingatan masa lalu. Apa saja yang terlintas dalam tulisannya? Tidak ada yang salah dalam hatinya yang menguatkan. Keluarkan saja semua idenya. Nanti kan akan jadi sebuah cerita.
Namun, tiba-tiba muncul perasaan tidak enak; dia merasa ada sesuatu yang salah dan mengganjal dalam tumpukan tulisannya. Diperhatikannya dari atas hingga akhir halaman itu. Ada sesuatu yang tidak serasi, pikirnya. Kok terasa ke mana-mana ceritanya.
Hingga akhirnya dia berhenti mengetik, lalu menggeser kursor ke atas untuk membaca ulang ceritanya dari baris pertama. Satu-satu baris dalam tulisan itu mulai dicernanya. Mulai bergumul dengan pertanyaan. Kenapa begini ya. Kok langsung ke sini. Seharusnya ini lebih dahulu.
Dan akhirnya dia mendapati kalimat-kalimatnya ternyata berantakan, alurnya melompat-lompat, dan ceritanya berputar-putar tanpa arah. Banyak logika yang tidak tersambung. Dia sendiri, sebagai penulis, tenggelam dalam ketidakmengertian. Apa sih maksudnya? Pungkasnya di akhir baris cerita itu.
Pada usia 50-an tahun, dia merasakan kekecewaan yang mendalam karena draf yang dia banggakan ternyata kacau dan tidak berujung. Euforianya yang tinggi, membawa dia hanyut dalam tulisan tulisan semaunya tanpa sebuah kerangka yang jelas. Sesuatu yang seharusnya dimulai sejak awal. Sebuah kerangka.
Setelah gemuruh emosi di dadanya reda, dia menatap kembali layar laptop dengan kepala dingin dan menerima kenyataan bahwa drafnya hanyalah hasil awal. Dia butuh kerangka untuk memulai kembali. Mulai dari pengenalan, konflik, titik puncak, hingga kesimpulan.
Hingga malam ini, di meja rumah yang sepi, dia menatap ribuan kata yang sudah ditulisnya mati-matian. Di satu sisi, dia merasa puas karena semua ide di kepalanya sudah tertulis. Seperti orang yang mabuk, dia mengetikkan semua yang terlintas di kepalanya. Seperti seorang penulis kampiun.
Dia mengingat kembali proses menulisnya yang hanya bermodal mengikuti kata hati, emosi, dan semua ingatan masa lalu. Apa saja yang terlintas dalam tulisannya? Tidak ada yang salah dalam hatinya yang menguatkan. Keluarkan saja semua idenya. Nanti kan akan jadi sebuah cerita.
Namun, tiba-tiba muncul perasaan tidak enak; dia merasa ada sesuatu yang salah dan mengganjal dalam tumpukan tulisannya. Diperhatikannya dari atas hingga akhir halaman itu. Ada sesuatu yang tidak serasi, pikirnya. Kok terasa ke mana-mana ceritanya.
Hingga akhirnya dia berhenti mengetik, lalu menggeser kursor ke atas untuk membaca ulang ceritanya dari baris pertama. Satu-satu baris dalam tulisan itu mulai dicernanya. Mulai bergumul dengan pertanyaan. Kenapa begini ya. Kok langsung ke sini. Seharusnya ini lebih dahulu.
Dan akhirnya dia mendapati kalimat-kalimatnya ternyata berantakan, alurnya melompat-lompat, dan ceritanya berputar-putar tanpa arah. Banyak logika yang tidak tersambung. Dia sendiri, sebagai penulis, tenggelam dalam ketidakmengertian. Apa sih maksudnya? Pungkasnya di akhir baris cerita itu.
Pada usia 50-an tahun, dia merasakan kekecewaan yang mendalam karena draf yang dia banggakan ternyata kacau dan tidak berujung. Euforianya yang tinggi, membawa dia hanyut dalam tulisan tulisan semaunya tanpa sebuah kerangka yang jelas. Sesuatu yang seharusnya dimulai sejak awal. Sebuah kerangka.
Setelah gemuruh emosi di dadanya reda, dia menatap kembali layar laptop dengan kepala dingin dan menerima kenyataan bahwa drafnya hanyalah hasil awal. Dia butuh kerangka untuk memulai kembali. Mulai dari pengenalan, konflik, titik puncak, hingga kesimpulan.